visitors

Selasa, 25 Maret 2014

Memaknai: Jangan Golput!




Sob, sangat diakui dan perlu diapresiasi usaha KPU, pemerintah, media, parpol peserta pemilu dll. dalam menggencarkan 'Jangan Golput!' (Acungi jempol)

Namun, perlu dimaknai pula bahwa TIDAK GOLPUT juga bukan berarti asal memilih 'kucing dalam karung'. Bisa-bisa, maaf, 'kucing garong' yang dipilih. Horor!

So, pengampanyean jor-jor-an NO GOLPUT ini harus pula dibubuhkan unsur pencerdasan dalam MEMILIH. Memilih memang menjadi hak mutlak masing-masing individu, tapi jika didasarkan pada hati sebagai bentuk kesadaran pasca-'ngepoin'-in (apa yang akan dilakukan) para calon wakil rakyatnya, tentu ini lebih baik.

Harus 'tebang pilih', tetapi tetap 'tanpa pandang bulu' dicari mana yang lebih baik. Jangan berdasarkan insting semata, bisa-bisa 'ngasal' tuhh pilihnya. Kita harus berhati-hati karena jika PILIHAN kita ASAL-ASALAN, maka bisa jadi selama lima tahun ke depan negara ini juga akan menjadi NEGARA ASAL-ASALAN.

Naudzubillaah, jangan sampai terjadi.



| MEMILIH itu CERDAS, tetapi MEMILIH DENGAN CERDAS itu jauh LEBIH CERDAS. Dan TIDAK MEMILIH itu...

-Kido :)

Jumat, 14 Maret 2014

Masjid pun Ber-Akustik


Tepat, setelah sepekan di pulau 'K', ini adalah jumatan pertama.
Bertempat di Masjid Fatimah LEC Athirah Bukit Baruga - Antang, pertama kali menginjakkan kaki di lantai keramiknya langsung disajikan keindahan rumah Allah itu. Tidak hanya itu, pemandangan lain yang menarik adalah dari segi arsitekturnya, yakni langit-langit kubahnya. Bukan, bukan karena bentuknya, tetapi karena bahan pembuatnya.

Ya, masjid ini bergaya 'akustik', sangat memperhatikan penataan suara untuk kekhidmatan jamaah dalam mendengar suara ceramah, imam, dll. Pun posisi pengeras suara di dalam ruangan utamanya diatur sedemikian rupa sehingga 'rasa' suara yang diproduksi pun cukup nyaman untuk didengar telinga. Bentuk kubah yang 'dome' seperti pada umumnya memang cenderung rawan terjadi cacat akustik 'pemusatan suara' apalagi diperkaya bahan dinding serta lantainya dari bahan pemantul (reflector) suara seperti keramik, marmer, dll.

Akan tetapi, ini menarik! Langit-langit kubah yang menaungi ruangan utama masjid tsb dilapisi bahan penyerap suara (abrorber) yang terlihat di beberapa sedikit terkelupas. Ini masjid 'ber-akustik'! Ditambah lagi, pemantulan pada dinding dan lantai diminimasi dengan desain sisi-sisi masjid yang dibuat terbuka langsung kontak dengan bagian luar. Ini membuat suasana yang cukup untuk nyaman akustik dan termal (sirkulasi udara).

Dengan menggunakan aplikasi Android 'Sound Meter', rasa penasaran seorang pen-TA Bidang Akustik-pun cukup terjawab. Coba saja melakukan pengukuran dengan telepon genggam bermodal aplikasi itu meski dengan 'sadar diri' bahwa, pastinya, akan terlalu banyak faktor yang diabaikan. Hasilnya adalah seperti pada gambar yang diperlihatkan beserta penampakan masjidnya.

Pengukuran sederhana yang dilakukan:
-Saat Khatib Menyampaikan Khutbah (Pukul 12.23.55 WITA selama 30 detik pada suhu 29-30 C, posisi depan dekat imam, sedikit di bawah panel load speaker 30 cm dari lantai)
-Saat Imam Memimpin Doa Pascajumatan (Pukul 12.55.25 WITA selama 30 detik pada suhu 29-30 C, di tengah ruangan utama, di bawah pusat kubah pada ketinggian 150 cm dari lantai)

Keterangan:
-Jumlah load speaker adalah 5 panel (3 unit di bagian sisi Barat pada ketinggian +- 250 cm dari lantai, 2 unit terletak masing-masing di bagian sisi utara dan selatan pada ketinggian +- 250 cm dari lantai)



Alhamdulillaah, jumat mubarak!
#jumatsedekah

-Kido :)

Photo & Edited-Pictured by: KIDO'S PICTURES
Measurement Powered by: Sound Meter Android Apps.

Kamis, 13 Maret 2014

Ustadz Teken Kontrak

Pernah liat ustadz?
Pernah liat 'layar kaca' alias TV?
Atau pernah liat ustadz/ah di TV?
Siapa saja ustadz yang diliat di TV?
Siapa saja ustadz yang masih tenar di TV hingga saat ini?

Lalu, siapa saja ustadz yang pernah tenar di TV, tapi sekarang raib entah ke mana dari per-TV-an?
Dan bagaimana seorang ustadz bisa & mau 'nongol' di TV?

***

Bukan, bukan karena menjual tausyiah semata, melainkan lebih mengerikan lagi sang mpunya stasiun TV hendak 'mengorbitkan'-nya kalo mau dikontrak. Ya, harus mau TEKEN KONTRAK.

Bukan teken kontrak perihal biasa, tapi ketentuan isi tausyiahnya harus memenuhi keinginan sang mpunya. Dipilih mana yang paling menguntungkan dan mendukung acara-acara lainnya.

Yang penting bukan tentang JILBAB, PACARAN, GOSIP, FILM, SINETRON, dan sejenisnya, JIHAD PEMBEBASAN PALESTINA, HIBURAN 'JOGET' GAK JELAS, dan masih banyak 'yang penting bukan' lainnya.
Memang tiada mengapa dengan ustadz yang masih TEKEN KONTRAK sampai saat ini. Toh, alhamdulillah, at least masih ada penyegaran rohani di tengah makin variatifnya keanehan tayangan di TV.

Tetapi, yang harus kita pahami juga bahwa ustadz/ah yang sudah tidak lagi 'on air' bukan berarti jadi bahan sasaran 'pengasingan' akibat tidak tenar, melainkan kita harus pahami bersama bahwa mereka telah memilih arena dakwah yang jauh lebih terbuka dibanding sekedar panggung teken kontrak yang membelenggu dan melenakan umat sesamanya.


| Sedangkan dakwah harus tetap berjalan meski beda media dan wilayah.

-Kido :)