visitors

Selasa, 29 November 2011

Kupinang Engkau dengan Al-Quran


Album : Kupinang Engkau Dengan Al Quran
Munsyid : Gradasi
http://liriknasyid.com


Kupinang engkau dengan Al Quran
Kokoh suci ikatan cinta
Kutambatkan hati penuh marhamah
Arungi bersama samudra dunia

Reff :
Jika terhempas di lautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di sukacita
Ingatlah 'tuk selalu syukur pada-Nya

Bridge :
Hadapi gelombang ujian
Sabarlah tegar tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya

Rabu, 09 November 2011

Etos Pemuda untuk Lingkungan



 http://www.metrogaya.com/files/pictures/artikel/global-warming.jpg

Memasuki era modern, merupakan sebuah tantangan masif untuk kelestarian lingkungan. Seakan sudah menjadi gaya hidup modern yang sarat akan teknologi, segala sesuatunya menjadi praktis. Sampai-sampai buang sampah pun sepraktisnya melempar ke mana pun dengan sadar. Ya, menjumpai orang membuang sampah sembarangan bukan hal yang tabu. Itu hanya setitik masalah lingkungan - yang dikombinasi dengan masalah karakter manusia – di antara segunung masalah lingkungan yang mendera negeri ini bahkan bumi ini. Makin lama makin jauh dari kesadaran. Makin mengakar karakter ketakpedulian lingkungan sekitar meski bukti-bukti dampak yang terjadi sudah dan sedang ada di depan mata. Dunia ini memang makin maju baik dari segi teknologi maupun di bidang lainnya sehingga orang-orang menyebutnya era globalisasi. Akan tetapi, dengan kemajuan teknologi ini bukan berarti lingkungan yang harus menjadi korban bahkan alam lagi yang menjadi kambing hitam atas kerusakan dan bencana yang terjadi.
Sudah banyak kampanye lingkungan disuarakan di mana-mana, workshop, seminar, dan demonstrasi, bahkan gerakan aksi lingkungan, tetapi sayang sekali follow up-nya tidak begitu jelas. Sebagai contoh, gerakan menanam seribu pohon dan segala gerakan sejenis yang berbeda judulnya yang digembar-gemborkan adalah event-nya saja tanpa kelanjutan yang jelas. Misalnya saja, gerakan merawat seribu pohon, dsb. Itu belum pernah ada. Bias jadi pohon yang ditanam lantas didiamkan akhirnya mati kering tak terpelihara. Lain halnya dengan tagline yang lagi terkenal akhir-akhir ini yakni “Go Green” yang seakan menjadi tagline wajib sebagai embel-embel nama perusahaan untuk menaikkan brand-nya. Brand dengan tagline “go green”-nya lebih dikenal disbanding langkah nyata “go green”-nya itu sendiri. Lalu, lingkungan tetap kewalahan dengan segala potensi yang ada yang siap menerkam kelestariannya.
Masalah lingkungan ini terlampau banyak dan parah. Penulis mengambil kota Bandung sebagai contoh. Sampah yang menggunung dan berserakan di mana-mana sudah biasa. Apalagi polusi udara sumbangan dari kendaraan yang kian seliweran ke sana kemari dan padat di sepanjang jalanan di sana-sini seakan dengan rela hati dihirup hidung ini. Belum lagi limbah pencemar air sungai, tanah, dan penggundulan hutan secara sembarangan. Itu semua seakan terbiasa dan menjadi konsumsi sehari-hari telinga kita. Kemudian, mata kita pun turut mengonsumsi dengan melihat dampak yang terjadi. Banjir, erosi, longsor, pencemaran air, penyakit gangguan saluran pernafasan, dan masih banyak lagi sedang terjadi di depan mata. Namun, yang paling mengerikan adalah pencemaran karakter manusia yang kian akut dan tak peduli lingkungan. Ini tidak terjadi bukan hanya secara individual, bahkan massal. Begitu mengerikan.
Lalu siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban atas semua yang terjadi? Jawabannya bukan pemerintah, pengusaha, ataupun pengembang wilayah, melainkan kita semua. Setiap manusia bertanggung jawab atas apa yang terjadi berkaitan dengan lingkungannya. Hanya yang jadi pertanyaan, siapa yang bias menjadi pioneer penyelamat lingkungan di masa depan. Bukan hanya sekedar aksi sendiri, tetapi juga menularkan rasa peduli dan cinta lingkungan kepada yang lainnnya. Bukan juga sekedar pemikiran solusi dan komentar kritis, tetapi juga aksi nyata. Jelasnya, aksi menjaga lingkungan dan aksi menularkanrasa peduli dan cinta lingkungan. Tentunya jika dilihat secara factual, kriteria penyelamatan lingkungan ini tiada lain dan tiada bukan harus diinisiasi oleh generasi muda yang kritis, cerdas, dan jauh berpandangan ke depan dengan berkaca pada sejarah.
Momentum 28 Oktober yang ke-83 kali inilah yang haus dijadikan sebagai modal persatuan pemuda-pemudi sebagai putera dan puteri bangsa untuk mewujudkan substansi dari ikrar sumpah pemuda. Tentunya jangan sampai tanggal 28 Oktober dan ikrar sumpah pemuda ini hanya sekedar menjadi acara ceremonial peringatan sejarah belaka tanpa melalukakan sesuatu hal nyata dan positif untuk negeri ini, Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia
Begitulah, salah satu penggalan ikrar sumpah pemuda yang dilantunkan pertama kalinya pada 28 Oktober 1928. Penggalan itu pulalah yang relevan untuk generasi muda sebagai modal dalam kaitannya Indonesia sebagai tanah airnya. Bukan hanya sebagai pengakuan belaka, tetapi juga harus melihat kondisi tanah air ini seperti apa dan aksi apa yang harus dilakukan menanggapi apa yang sedang terjadi. Tanah air ini bukan hanya untuk diakui saja, tetapi juga untuk dijaga dan dilestarikan. Berbicara tanah air berarti berbicara kondisi fisik bangsa, lingkungan sekitar tempat kita berpijak. Dibutuhkan etos aksi peduli lingkungan yang tinggi dari seluruh generasi muda bangsa untuk memulihkan dan menjaga kelestarian lingkungan di negeri ini. Ibu pertiwi sedang merindukan itu. Generasi penggerak sadar lingkungan. Siapa lagi selain kaum muda-mudi dengan pemikiran kritis, jernih, dan cerdasnya. Sadar lingkungan ini tidak hanya ditekankan pada generasi muda saja, tetapi juga seluruh tingkatan generasi. Generasi muda ini menjadi pioneer, agen penyelamat lingkungan. Khususnya kaum intelektual, pelajar dan mahasiswa, sangat disayangkan jika hanya berkutik dengan formalisasi pendidikan tanpa melihat kondisi lingkungan di sekitarnya. Ya, semuanya dilakukan secara bertahap. Revolusi massif sadar lingkungan itu mungkin, tetapi sangat kecil peluangnya. Jadi, penyadaran akan menjaga kelestarian lingkungan ini dapat dilakukan mulai dari hal terkecil, kelompok kecil, tetapi berkelanjutan dan menularkannya. Siapa lagi selain generasi mudalah yang dapat menjadi pioneer dalam memulihkan dan melestarikan lingkungan ini sebagai kekayaan alam yang diamanahkan Allah Yang Maka Pencipta kepada Indonesia dan sekali lagi generasi muda sebagai agen penyelamat dan penebar pesan peduli lingkungan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoFYcU3S-FXPO6kx0a5TAGcMiCjZTmXLL4bHAhIJQOV2fV9Od0LSxuPxySEblE0M9Qmb61R9u1iHRXoGzV0ujAAz08SxPXX9lJo6a0w74AovLg8PzugYZzyN0DG3N6_zsGANj70zOxh4Tm/s1600/97352_banjir-bandang-di-wasior--papua.jpg

Oleh: Kiki
Bachelor Student of Engineering Physics
Faculty of Industrial Technology
Institut Teknologi Bandung

Rabu, 05 Oktober 2011

Shubuh, Download, Untung, & Jangan Ditiru!

Sebelum alarm berdering aku udah kebangun, 03.49 AM gitu layar hape terang di depan mata. Mmm, masih ngantuk tidur lagi dikit lumayan sambil nunggu Adzan Shubuh. Zzz. Nggak lama mata kebuka berbarengan sama alarm hape, "jiah jih jiah jah," 3X gitu kira-kira. Aku confirm aja alarmnya -kerasa bersisik, eh berisik maksudnya. "tidur lagi ah, lumayan," gitu dalem ati. Eh, suddenly kedenger,

"Allaahu akbar...," Kedengeran suara muadzin yang tanginas banget.

Adzan pertama ternyata. Mau tidur lagi. Ga jadi. Termenung sejenak memandangi si Sams (panggilan laptopku tercinta) masih bersuara "Hey kembalilah...," lagunya My Birdhouse, band baru yang lagi promo. lagunya jadi paporit gitu. Bukan kaporit! tapi kaporit! Eh, paporit -haha, garing.

Lanjut mandi aja jadinya. Soalnya kalo ntar-ntar malah ikut nimbrung di antrean maut asrama dah. Kesiangan dah. Cape dah. Sepe dah. Hahah.

Mandi aja. Gejebus-gejebus. Gosok gigi, pake sabun, keramas nggak ya? keramas! inget banget pake shampo sutra matahari. Dan lain-lain. Seger. Beres mandi. Kering pake handuk. Masuk kamar sambil dingin-dingin Bandung kota kembang. Tak lama kemudian,

"Allaahu akbar...," Adzan asli oleh muadzin asli, bukan kaset, original hak paten masjid Alfathonah -masjid deket asrama Etos Ciheulang Bermartabat.

Kiki pake koko, haha. Brangkat ke masjid sholat shubuh berjamaah. Asyiknya.

"Assalamualaikum warahmatullaah...," ucap imam.

Dzikir. Doa. Kembali ke kamar dan saatnya cek notif, dan ngenet lainnya. Cek mata kuliah hari itu juga loh.
Lantai atas mulai bergetar tanda halaqoh segera dimulai. Benar saja,

Tok tok tok, "Ki, Halaqoh," gitu kata Bang Qodafi -pendamping asrama.
"Iya, Kang," sahutku.

Terus halaqoh aja sekitar jam limaan (baca: 5-an). Ikut baca almatsurat tiga perempat bagiannya. Dengerin pembacaan tafsir Ibnu Katsir. Sejuk, sambil agak ngantuk-ngantuk. Singkatnya halaqoh shubuh edisi Selasa, 4 Oktober 2011 beres dan ditutup dengan penutupan (closing) -pengumuman dan doa setelah sebelumnya ada yang short tausyiah. Balik ke kamar dibarengi kongkowan-kongkowan. Buka pintu kamar. Cek notif & tweet. cek download-an. Ternyata udah beres. Download film jadul gitu. Deep Blue Sea Part 2. Kubuka aja file-nya. Ngek ngok, ternyata kagak bisa kebuka. Kucoba lagi pake pemutar video yang udah biasa dipake n udah kuanggap ampuh gitu, tapi tetep aja ga bisa. Coba pake pemutar video yang lain kagak bisa juga. Klik kanan di filenya. Properties. Ganti format ke macem-macem format video yang aku kenal. Emang format downloadan itu ".rar". Ternyata emang nggak bisa juga. Aneh banget yang part 1 aja bisa langsung kebuka tanpa ngubah format. Saktikah? Nggak kali, emang bisa kayak gitu. Padahal 100 Mb. Menanti sekitaran sejaman (baca: sejam-an). Kecewa. Ya udahlah. Download yang laen aja. Ting! (ada lampu imajiner di atas ubun-ubun). Ketik aja Detective Conan. Enter. Download yang 617. Saat itu sekitaran jam enem pagi kurang seperempatan ("udah sekitaran ada seperempatannya lagi. Banyak banget ketidakpastiannya, Bro!").

06.59. Melek dikit. "Hah?" kaget. AM! artinya kesiangan parah! ketiduran parah! parah! Siap-siap peralatan kuliah. Untung udah mandi. tapi cuci muka and beresin muka sekaligus kamar juga, barang dikit lah. Cek downloadan. Belum beres. About 7 minutes remaining. Sambil siap-siap segala rupa, Si Sams harus dimatiin terakhir kalo nggak bakalan dobel rugi, bahkan tripel! maybe. Nge-Short Message Service RH (Romi Hardiyansyah - nama tidak disamarkan). Dia temen sejurusan, sekelas, kadang sejajaran bangku, kadang juga sejajaran shaf  kalo sholat di Masjid Salman. Engineering Physics. Dia juga kadang suka jadi imam. Aku juga. tapi nggak terlalu. Berat euy tanggung jawabnya. Dia orang Pandeglang loh. Aktivis Pembinaan Anak Salman ITB. Aku aktivis Etos, haha bangganya di Etos. Lanjutin ah, malah kepanjangan dan kelebaran ngomongin ini itu kemana-mana.

Rom, dah ada bu F***** belum? gitu SMSku.
Blm, Ki, gitu balesannya.
klo bu F***** udah dtg sms y, kuSMS balik dia.
Sip, kata RH dalam SMS.

07.12 AM (atau sekitar dua menit kemudian) hape bunyi. 1 message to read. ....


"Alhamdulillah, downloadan beres," sambil jalan dengan kecepatan super -abis pake sepatu, dan lain-lain sebelumnya pascabaca SMS terakhir RH. Pake batik ijo. Nuansa 2 Oktober masih melekat di hati (ciee). Nggak pake jaket. Wangi. Ngerasa seger abis cuci muka langsung jalan super sehat ketiup angin semilir Bandung Gemah Ripah Repeh Rapih di pagi hari. Tubagus Ismail macet. Angkot biru numpuk nggak ada yang mau ngangkut (ya iyalah, orang doi juga lagi nyari angkutan, angkutan umum gitu loh). Aku cepet banget jalannya. Bahkan mobil-mobil jenis baru, lama, berbagai merk juga tak bisa membendung kecepatanku. Motor, dsj. sekalipun. Kulewati berbagai pedagang. Kulihat sepintas beberapa tingkah laku orang, beberapa gaya ibu-ibu, kucing yang lucu, dan hape di genggaman yang menunjukan 07.23 AM. Surprise! Jalan terus. Semangat. Lupa sarapan, tapi kalo inget juga pastinya nggak akan sarapan dulu. yah, you can imagine. Singkat cerita nyampe kampus deh. Liat temen, kok arah jalannya ke arah aku masuk tadi alias balik lagi ya? mulai berdebar-debar. KuSMS RH lagi karena kupikir jangan-jangan aku ntar nggak boleh masuk karena telat pascaliat temen yang kayaknya balik lagi gitu dengan muka menunduk, tapi nggak keliatan sedih malah agak ngebentuk U dari samping gitu, dari agak kejauhan. 07.28 AM lebih beberapa detik.


Rom, ane masuk ga y? ragu.
msk ja, gitu katanya ngeyakinin aku.

Dan beneranlah aku jadi yakin gitu setelah membayangkan wajahnya -RH- sebagai seorang temen yang sedang meyakinkan temennya dengan mimik penuh semangat. Mengarah ke arah gedung kuliah sambil ngelirik dikit himpunan. Express. Oops! lantai empat, baru inget. Pencet tombol lift. Pencet tombol menutup dan tombol angka empat. setelah masuk lift di lantai satu. Saat itu aku bareng cewek, kayaknya angkatan baru tapi jurusan tetangga yang segedung. Tujuannya sama lantai empat, tapi nggak tau tuh soal dia telat masuk kuliah atau nggaknya. Yang pasti aku telat parah bet! 07.30 AM nyampe lantai empat. Menuju ruangan. Dag dig dug kenceng. Kelas sebelah dosen lagi berkumandang udah dari setengah jam lalu mungkin. Kuberanikan diri tuk masuk kelas. Tas ranselku kuturunkan. Kutenteng. Seakan ada backsound music pengumumuan kemenangan atau musik pengiring saat sinetron akan bersambung, jeng jeng .. jeng jeng, aku menapakkan kakiku di lawang pintu kels diikuti kepala dan seluruh bagian tubuhku. Hening...

Aku liat bu F*****, begitupula beliau. Sambil beliau berbicara menerangkan matakuliah yang sedang diajarka dan disimak temen yang udah datang duluan (mungkin ada yang tapi nggak separahku) kutatap beliau dan kulemparkan senyuman. Ternyata senyumanku berbalas tanpa sepatah kata pun terucap dari kedua belah pihak. kumenuju tempat duduk. Kulihat yang masih kosong bener-bener bangku paling bontot nih, tapi tak apa, yang penting selamet, untung. Sambil jalan seakan ditatap jutaan mata, padahal cuma temen-temen sekelas, kulempari mereka senyuman bak Miss Universe terpilih, tapi nggak pake dadah-dadah gitu ya. Duduk. Temen di bangku depan memperlihatkan jam tangan.

"Bagus juga," pikirku.

Tapi bukan itu yang jelas. Maksudnya ngeliatin jarum panjang jam yang udah melintasi angka enam, dikit. Aku juga nggak mau kalah ngeliatin hape yang sejak pergi tadi digenggamanku. 07.32 AM. Hehe, agak nyerengeh. Malu juga. Tapi ya sudahlah jadi pelajaran emas tuk kehidupan selanjutnya. Slide presentasi terlihat jelas parah. Tulisan di papan tulis imut nan berpelastik nggak kliatan karna tulisannya kecil, silau pula. Pindah kursi. Sukses. Sangat untung akhirnya! interaksi dengan temen seangkatan dan lintas angkatan, diskusi kasus yang sedang disampaikan dosen, nyatet banyak, nggak ngantuk sampe kuliah beres. Alhamdulillaah. 08.55 AM.

So, intinya bagi Agan-agan/Acan-acan, Masbro/Mbaksist, Akhi/Ukhti yang mulai beraktivitas dirasa penting atau emang bener-bener penting just like sekolah, kuliah, ada janji, masuk kerja, deadline tugas, dll tepat harus pukul 07.00 AM (pagi) WIB/WIT/WITA/WLN maka berhati-hatilah dengan yang frase "tidur lagi abis shubuh". Entah itu ketiduran atau keenakan. Kalo emang mau tidur lagi juga nggak diharamkan kok, cuma ancang-ancang aja supaya tetep bisa tepat waktu. Misal yang udah lumrah set alarm, tapi ada beberapa tips tambahan,
1. minta dibangunin langsung ke yang lain (orang), siapa pun yang seatap
2. minta di-misscall-in ke temen yang sebelumnya dah diSMS terlebih dulu, tapi inga-inga! hape Antum jangan di-silent kecuali kalo ga sengaja atw disengaja asal usaha preventifnya (pencegahan) hape Antum simpen di daerah yang langsung kena dengan anggota badan
3. Jangan tidur lagi aja, cari aktivitas lain yang dinamis (bikin gerak) jangan yang bikin ngantuk, cem nunggu downloadan beres
4. lainnya Antum tambahin aja ya. Ane yakin Antum pada kreatip.

From this story which will be my history, banyak pelajaran penting (ibroh), keajaiban (untung), dan jangan ditiru! bahaya ketagihan mengintai!
don't try this at home, cost, dormitory, etc!

Perhatian: dalam alkisah di atas ada bagian yang seakan-akan nge-Download itu lebih penting dibanding buru-buru buat berangkat kuliah, padahal nyatanya nggak begitu, Sob. Mencari ilmu itu lebih penting dan wajib bagi kita. Scene (kejadian) di atas terjadi secara paralel (berbarengan). Ini memang seperti kebetulan, tapi nyatanya juga bukan. Itu adalah kebenaran. Kebenaran dari rencana dan takdir-Nya. Sekarang tinggal bagaimana kita menjalaninya. semoga bermanfaat. #ASIK

KEEP PRAYING AND UNDERTAKING!
:D

Etoser, Kiki. Pengalaman Telatku Terparah Bagian Pertama & Terakhir. 2011. Room 101.